Indonesia

CERITA TENTANG MAKNA MARAPU DI DALAM KEHIDUPAN KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SUMBA Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi oleh rasa keagamaan. Bisa dikatakan agama Marapu sebagai inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Budaya Sumba asli dalam segala bentuknya merupakan manifestasi dari kepercayaan tradisional orang sumba yaitu kepercayaan Marapu, yang merupakan warisan nenek moyang atau leluhur Marapu, yang secara holistik telah mendasari seluruh tatanan masyarakat orang sumba. Bagi masyarakat Sumba, Marapu menjadi falsafah hidup bagi berbagai ungkapan budaya Sumba. Mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umaratu), rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunannya, sampai kepada seluruh aspek kehidupan dan kegiatan orang Sumba. Marapu merupakan tata nilai mendasar yang dipegang dan dianut oleh masyarakat Sumba. Tidak berbeda dengan sistem kepercayaan umumnya Marapu mempunyai dua peranan penting dalam kehidupan masyarakat Sumba.Pertama, Marapu berperan sebagai pedoman hidup, tingkah dan laku masyarakat Sumba. Marapu sendiri mempunyai aturan-aturan atau hukum 1. Kelompok kelompok Keagamaan Di dalam masyarakat Sumba dapat dikatakan tidak ada satu segi kehidupan yang tidak diliputi oleh rasa keagamaan. Sudah sejak lahir seseorang dipersiapkan untuk melayani kepentingan Marapu-nya. Anak-anak selalu dibawa untuk turut serta didalam upacara pemujaan. Bahkan anak-anak itulah yang makan nasi sesaji yang sudah dipersembahkan dengan maksud agar mereka dikenal oleh Marapu. Demikian pula ketika anak-anak itu mulai menginjak masa remaja atau masa dewasa. Mereka diwajibkan turut berpartisipasi dalam berbagai upacara, misalnya membantu orang tuanya mempersiapkan sesaji atau mewakili untuk menghadiri suatu upacara karena orang tuanya sedang berhalangan. Ketika hendak menjalani hidup berumahtangga, seorang laki-laki mengambil istri dengan maksud utama ka napohu kalaja wingiru — kalaja bara (agar meramu sesaji kuning dan sesaji putih), maksudnya agar ada yang membuat nasi kuning dan nasi putih yang menjadi persembahan utama kepada marapu, karena tujuan utama dari perkawinan ialah supaya tetap ada yang melayani kepentingan marapu, yang dalam ungkapan dikatakan mata ka ningu mapadukulu epi la au — mapakalibuku wai la mbalu ( agar ada yang menghidupkan api di dapur dan yang mengisi air ke tempayan). Suami istri yang masih muda adalah pengganti dan penerus tugas orang tua untuk melayani kepentingan Marapu. Secara umum setiap orang wajib memuja Marapu dengan member persembahan dan bersembahyang. Oleh karena itu dalam suatu biliku (keluarga batih), suami dan istri harus bekerja sama menyediakan bahan sajian untuk dipersembahkankepada Marapu. Seperti telah dikemukakan bahwa kelompok kekerabatan yang terbesar dalam masyarakat Sumba ialah kabihu. Kabihu merupakan kelompok kekerabatan yang terdiri dari segabungan uma-uma yang merasa diri berasal dan satu nenek moyang. Setiap kabihu rnempunyai benda-benda pusaka tertentu yang dianggap keramat dan yang berhubungan dengan asal mula dari kabihu itu. Benda-benda yang dikeramatkan itu disebut tanggu Marapu. Para warga kabihuwajib melakukan serangkaian upacara yang berhubungan dengan tanggu Marapu itu atau yang berhubungan dengan pemujaan kepada arwah leluhurnya. Upacara-upacara biasanya dilakukan di rumah pusat (uma bokulu) dari kabihu yang bersangkutan, karena rumah bukan saja sebagai tempat tinggal manusia, tetapi yang paling utama adalah tempat melakukan kebaktian kepada marapu. Upacara terpenting yang dilakukan di uma ialah upacara Puru la wai dan upacara Nggutingu. Dalam upacara-upacara itu, anakanak para warga kabihu yang telah mencapai usia tertentu diresmikan menjadi wargakabihuyang dewasa. Setiap kabihu tidak pernah berdiri sendiri , dan selalu mempunyai hubungan dengan kabihu lain. Hubungan tersebut bisa terjadi karena diantara kabihu kabihu itu mungkin berasal dan satu leluhur, ada hubungan kekerabatan atau karena ada sangkut paut dengan sejarah leluhurnya. Dengan melalui musyawarah, mangu tanangu sebagai pemimpin dan penganjur menghimpun semua kabihu yang ada di dalam wilayah kekuasaannya dalam suatu perkampungan besar yang disebut paraingu. Dalam suatu paraingu setiap kabihu diwajibkan untuk turut ambil bagian dalam upacara pemujaan terhadap satu marapu ratu. Marapu ratu dipuja dalam suatu rumah kecil yang tidak dihuni manusia yang disebut Uma Ndapataungu. Demikianlah, dapat dikatakan paraingu adalah tempat pemujaan, karena setiap upacara pemujaan yang penting harus dilakukan di paraingu, misalnya upacara Pamangu langu paraingu, Pamangu kawunga dan Pamangu lii ndiawa — lii pahuamba. Upacaraupacara tersebut dilakukan dengan maksud agar Marapu Ratu serta Marapu lainnya member perlindungan, berkat, kesuburan dan kemakmuran. Pemujaan terhadap Uma Ndapataungu itulah yang menjadi pusat persekutuan kabihu-kabihu yang terdapat dalam paraingu . Adapun orang yang khusus melayani upacara pemujaan terhadap Uma Ndapataungu ialah para ratu dan paratu.Musyawarah Musyawarah adalah perhimpunan untuk membahas bersama masalah – masalah yang dihadapi untuk mendapatkan kesimpulan yang di setujui bersama dan menjadi keputusan bersama. Masyarakat Sumba pada umumnya sangat menghormati keputusan – keputusan yang di ambil berdasarkan musyawarah, di mana tokohnya atau yang mewakili turut hadir dan memberikan pendapat. Pertemuan itu di sebut pulu pamba, bata bokulu ( bicara rapat – pembicaraan besar = musyawarah untuk mencapai kata sepakat ). Singkatnya, musyawarah merupakan budaya orang sumba dalam mengambil keputusan.Menyangkut masalah adat – istiadat, perlu di ingat bahwa musyawarah para leluhur yang menurut catatan berlangsung selama enam kali itu masih sangat menyatu dengan faham kepercayaan asli, yaitu kepercayaan Marapu, sehingga semua keputusan bersifat sakral dan masyarakat sangat takut untuk melanggarnya, akan kena hukuman yaitu ―Nda malundungu‖ ( tidak selamat, mati cepat ). Hal ini terjadi karena begitu semua musyawarah adat selesai, langsung di lakukan dua hal penting, yaitu pertama, mengadakan IKAR dan yang kedua, bersemba yang kepada Marapu untuk menutup musyawarah itu. Ikar diangkat oleh pemimpin musyawah dengan mengatakan : ―inilah hukum dan tata cara ―da nuku, da hara ), adat – istiadat suri teladan ( da ngguti kalaratu, da huri pangerangu ), batas sejauh kita jalan dan lingkaran sejauhnya kita pergi ( na huku lii lakunda, na huku lii lawadinda ). Marilah keputusan – keputusan ini kita menghayati dalam – dalam di hati dan kita mengamalkannya sungguh – sungguh dalam segalah peri kehidupan kita mulai dari kita sampai turun temurun ( matawa kata kalumbutu la iwinya, kata kaloru pakawananya = marilah kita simpan dalam kalumbutu rotan yang kuat, kita pegang kuat dengan tangan kanan ). Hal yang ke dua adalah berdoa ( hamayangu ) kepada Marapu agar memberkati yang melakukannya dalam hidupnya, dan menghukum yang melanggarnya. 7Ini tentu saja berbeda dengan musyawarah – musyawarah adat yang disponsori oleh pemerintah. Menurut pendapat penyadur, musyawah seperti ini sebenarnya lebih tepat kalau di sebut ― seminar tentang adat- istiadat Sumba‖, oleh karena lebih menekankan kepada ― pelaksanaan ― dari adat – istiadat itu dalam kehidupan sehari – hari. Bentuk dan Lapisan Masyarakat Di Sumba Timur Kabihu (marga atau suku, atau clan ) adalah kelompok orang yang merupakan suatu persekutuan hukum menurut keturunan (genealogis) yang anggota – anggotanya terdiri dari orang – orang yang terjadi turunan dari satu leluhur.Di dalam suatu wilayah hukum selalu ada tuan tanah atau pemilik negeri ( mangu tanangu ), kabihu – kabihu yang di anggap pendatang awal, yang lebih dahulu tiba di lokasi itu sehingga menjadi pemilik atau juga dengan cara – cara tertentu untuk mendapat hak sebagai tuan tanah. Orang Sumba Timur tidak memperkenankan adanya kawin – mawin antar sesama kabihu (bersifat eksogam, kawin ke luar). Selain terdapat kabihu yang dapat berkembang biak sehingga bertambah banyak, terdapat pula kabihu yang tidak berkembang biak, sehingga lama – kelamaan sudah punah dan hilang dari masyarakat, hanya tinggal nama kabihunya saja. Di dalam sebuah kampung atau negeri, di tunjuk kabihu – kabihu dan tokoh – tokoh tertentu untuk tugas – tugas tertentu. Dalam kehidupan masyarakat, susunan kehidupan masyarakat Sumba Timur adalah sebagai berikut: Maramba : ningrat, raja, bangsawan; Maramba adalah orang – orang keturunan bangsawan yang merupakan orang yang berstatus paling tinggi dalam status sosial masyarakat Sumba. Para maramba inilah yang biasanya memegang tambuk pemerintahan di wilayahnya masing – masing. Kabihu : orang merdeka, masyarakat biasa; Kabihu ialah orang – orang yang bebas dan tidak terikat oleh para maramba, mereka bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa ada tekanan dari bangsawan dan biasanya orang – orang dari kabihu inilah yang terpilih menjalankan ritual Marapu, sebagai para Ratu . Ata : hamba Ata atau hamba adalah golongan yang paling rendah dalam struktur lapisan sosial masyarakat Sumba. Mereka dijadikan alat sebagai pekerja di rumah para bangsawan. Ata atau hamba yang dimiliki oleh para bangsawan diperoleh melalui tawanan perang pada masa lalu, serta ada juga hamba yang dibeli pada masa lalu, sehingga keturunannya tetap menggabdi pada keturunan bangsawan yang menang perang atau keturunan bangsawan yang membeli hamba. Karena itu seumur hidup bara hamba itu harus menggabdi kepada tuannya. Tingkatan ini didasarkan atas silsilah atau kelahiran. Akan tetapi karena perkembangan keadaan, maka orang yang asalnya orang biasa dapat meningkat statusnya karena pandai bergaul, kawin – mawin, memiliki kemampuan ekonomi dan keberhasilan dalam pendidikan. Status sosial atau kasta kemasyarakatan seperti di rinci di atas, dalam kehidupan sehari – hari tidak begitu tampak lagi. Pendidikan (keahlian) yang di miliki seseorang ikut membantu kewiba-waannya dalam masyarakat. Masyarakat memberi penghargaan yang khusus kepada seorang serjana karena di anggab ―sia lebih tau‖ sehingga banyak orang yang mendengar dan mengikuti apa yang ia katakan. Pendidikan memberi nilai plus bagi kewibawaan seseorang. Wibawa ini dapat diandalkan bahkan di perbesar kalau yang bersangkutan dapat membuktikan diri kepada warga masyarakat di mana dia berada bahwa dia memang ahli di bidangnya, kalau dia tampak beda. Dengan demikian, orang yang berpendidikan dapat meningkatkan status sosialnya di dalam masyarakat. Permukiman dan Bentuk Rumah Masyarakat Sumba membangun permukiman (praingu) yang terdiri dari bangunan bangunan – bangunan rumah beberapa klan (kabihu). Pemukiman ini biasanya dibangun atas bukit dengan pagar batu dan tumbuhan berduri (biasanya tanaman sejenis kaktus berduri). Pagar tersebut dimaksudkan untuk melindungi permukiman dari serangan musuh. Letaknya yang berada pada ketinggian menggambarkan konsepsi masyarakat Sumba yang percaya bahwa tempat ketinggian merupakan kediaman arwah para nenek moyang. Kepercayaan terhadap Marapu telah mempengaruhi formasi permukiman yang dibangun didalam praingu. Setiap praingu biasanya di lengkapi dengan rumah pemujaan, tugu pemujaan (katoda), dan makam. Pada perkampungan adat paraing terdapat rumah-rumah khas yang disebut Uma Mbatangu. Dengan atap alang-alang yang menjulang, dan posisinya seluruhnya membentuk perahu, dan dibagian tengah perumahan penduduk terdapat kuburan megalitik. Simbol tersebut eratkaitannya dengan kosmologilokal.Tataletak rumahseperti perahu menggambarkan persatuan dan kesatuan, yaitu sebuah kerja sama dari semenanjung Malaka hingga Sumba. Selain mempengaruhi formasi permukiman warga, kepercayaan terhadap Marapu juga telah membingkai pemaknaan terhadap rumah – rumah tradisional Sumba.Filosofi orang Sumba banhwa rumah bukan sekedar tempat bernaung dari hujan dan panas tetapi rumah merupakan mikrokosmos dari dunia yang makrokosmos. Sehingga dalam rumah orang sumba dibagi menjadi tiga bahagian:Tempat paling atas (loteng) disebut toko uma merupakan ruangan yang bersifat sakral untuk para ilah dan arwah leluhur karena itu tempat ini tempat penyimpanan benda-benda pusaka (keramat) dan benda-benda pemujaan. Ruangan di tengah disebut bei uma atau badan rumah, merupakan tempat aktifitas manusia. Bagian luar berupa beranda tempat bersantai dan menerima tamu. Sedangkan bagian dalam merupakan tempat hunian sekaligus tempat pemujaan dan pelaksanaan ritus. Rumah ini berpintu dua di depan kiri dan kanan. Pintu depan sebelah kanan merupakan pintu masuk untuk laki-laki yang berhubungan langsung dengan bale katonga yaitu bagian rumah untuk laki-laki dengan fungsi yang lebih formal (tempat menerima tamu) dan religius (tempat pelaksanaan ritus). Pintu sebelah kiri untuk perempuan, yang berhubungan langsung dengan kere padulu yang fungsinya lebih pada urusan rumah tangga. Di tengah-tengah ruangan –yang diapit oleh empat ruangan utama- terdapat tungku untuk memasak yang disebut rubuka. Dan ruang tidur disesuaikan dengan posisi ke-4 tiang utama. Sedangkan bagian bawah (kolong rumah) disebut Sali kabunga tempat memelihara ternak (kandang hewan seperti kuda, kerbau, dan babi). Peranan Sirih – pinang Sirih – pinang sangat penting peranannya dalam kehidupan orang Sumba, bahkan secara relatif dapat menggeser peranan bahan makanan. Setiap orang yang datang berkunjung terlebih dahulu harus disodorkan tempat sirih – pinang (mbola pahapa). Untuk makan sirih, perlu disediakan tiga unsur yaitu sirih, pinang, dan kapur tepung. Sirih dapat berbentuk daun sirih, buah sirih segar, dan sirih buah kering. Pinang dapat berbentuk buah pinag muda, buah pinag tua, dan irisan buah pinag kering. Tempat sirih yang selalu siap untuk tamu atau untuk keperluan sendiri di rumah tangga disebut mbola pahapa (tempat sirih pinag). Tempat sirih yang selalu di bawa – bawa oleh perempuan di sebut Kapu sedangkan tempat sirih yang di bawa – bawa oleh laki – laki disebut Kalumbutu. Orang tua yang sudah ompong sehinga tidak kuat lagi mengunyah, menyediakan dirinyaalat penumbuk sirih pinang yang di sebut, Tuku (gobek, berasal dari kata go back), terbuat dari bagian ujung tanduk kerbau (disebut :bai = betina), dengan alat tumbuk kecil dari logam (disebut :muni tuku = jantannya). Bahan sirih pinang yang sudah di tumbuk dengan ―Gobek‖ ini sering kali di bagi – bagikan juga dengan sesama orang tua. Kalau bertemu dan tidak di suguhi tempat sirih pinang maka dianggap tidak sopan atau berangkali sedang marah. Demikian juga kalau bertemu dalam perjalanan, harus saling menyodorkan tempat sirih pinang. Berdasarkan hal – hal tersebut di atas, sirih pinang berperanan sebagai alat pergaulan sehari – hari, selain makan sirih pinang (biasa di singkat sirih saja =hapa) memberikan ketenangan dan semangat, karena sirih dan pinang mengandung alkaloid, sehingga sebenarnya mirip narkotika. Banyak orang sumba yang menganggap lebih baik tidak makan dari pada tidak makan sirih pinang. Maka sirih pinang juga di anggap sebagai tanda kedewasaan. Dalam urusan adat,baik upacara perkawinan maupun upacara kematian, hal memberikan suguhan sirih pinang ini sangat penting, sehingga anggaran untuk sirih pinang juga cukup besar.

Inggris

STORIES ABOUT THE MEANING OF MARAPU IN THE LIFE OF THE SOCIAL LIFE OF SUMBA COMMUNITIES            Almost all aspects of Sumba's community life are covered by religious tastes. Marapu religion can be said as the core of their culture, as a source of values ​​and outlook on life and has a great influence on the lives of the people concerned. The original Sumba culture in all its forms is a manifestation of the traditional beliefs of the Sumbanese people, namely the Marapu belief, which is the legacy of Marapu's ancestors, which has holistically underpinned the entire Sumba community. For the people of Sumba, Marapu is a philosophy of life for various Sumba cultural expressions. Starting from traditional ceremonies, houses of worship (umaratu), traditional houses and building design procedures, to all aspects of life and activities of the Sumbanese people. Marapu is a fundamental value system that is held and adhered to by the people of Sumba. Not unlike the general belief system Marapu has two important roles in the life of the Sumba community. First, Marapu serves as a guide for the life, behavior and behavior of the Sumba people. Marapu himself has rules or laws 1. Religious groups          In Sumba society it can be said that there is no one aspect of life that is not pervaded by religious sense.From birth someone was prepared to serve the interests of his Marapu. Children are always brought to participate in worship ceremonies. Even those children who eat rice offerings that have been offered with the intention that they are known by Marapu. Likewise, when children begin to reach adolescence or adulthood. They are required to participate in various ceremonies, for example helping their parents prepare offerings or represent them to attend a ceremony because their parents are unable to attend. When trying to live a married life, a man takes his wife with the main intention of ka napohu kalaja wingiru - kalaja bara (in order to gather yellow offerings and white offerings), meaning that someone makes yellow rice and white rice which is the main offering to marapu, because the main purpose of marriage is to keep someone serving the interests of your mamu, which in the phrase is said to be the eye of the mapadukulu epi la au-mapakalibuku wai la mbalu (so that there is someone who lights a fire in the kitchen and who fills water into a jar). A young husband and wife are successors and successors to the task of parents to serve the interests of Marapu. In general, everyone must worship Marapu with members offering and praying.Therefore, in a biliku (batih family), the husband and wife must work together to provide presentation material to be offered to Marapu. As has been stated that the largest kinship group in Sumba society is kabihu. Kabihu is a kinship group consisting of a group of uma-uma who feel themselves as originating from one ancestor. Each kabihu has certain heirlooms that are considered sacred and which are related to the origin of the kabihu. The sacred objects are called the Marapu embankment. Kabihuwajib residents perform a series of ceremonies related to the Marapu embankment or those related to worshiping the spirits of their ancestors. The ceremonies are usually performed at the central house (uma bokulu) of the related kabihu, because the house is not only a place for humans to live, but the most important is a place for worship services for marapu. The most important ceremonies performed at Uma are the Puru la Wai ceremony and the Nggutingu ceremony. In these ceremonies, the children of Kabihu residents who have reached a certain age are inaugurated as adult citizens. Each kabihu never stands alone, and always has relationships with other kabihu. This relationship can occur because among the kabihu kabihu may originate from one ancestor, there is a kinship or because there is a connection with the history of the ancestors.Through consultation, mangu tanangu as a leader and advocate of gathering all kabihu in his territory in a large village called paraingu. In a paraingu every kabihu is obliged to take part in the worship ceremony of a queen marapu. Marapu queen is worshiped in a small house that is not inhabited by humans called Uma Ndapataungu. Thus, it can be said that paraingu is a place of worship, because every important worship ceremony must be performed in paraingu, for example the Pamangu langu paraingu ceremony, Pamangu kawunga and Pamangu lii ndiawa - lii pahuamba. The ceremonies were conducted with the intention that Marapu Ratu and other Marapu members provide protection, blessing, fertility and prosperity. The worship of Uma Ndapataungu became the center of the alliance of the kabihu found in paraingu. As for the special person serving the worship ceremony for Uma Ndapataungu are the queens and paratu.Musyawarah Musyawarah is a gathering to discuss together the problems faced to get conclusions that are mutually agreed upon and become a joint decision. The Sumba community in general respects the decisions that are taken based on consultation, in which the figure or representative represents and gives an opinion.The meeting was called pulu pamba, bata bokulu (talk of big meetings = deliberation to reach an agreement). In short, deliberation is the culture of Sumba people in making decisions. Regarding the issue of customs and traditions, it is important to remember that the deliberation of the ancestors which according to the record lasted six times was still very much integrated with the original beliefs, namely Marapu's beliefs, so that all decisions were sacred and people are very afraid to break them, will be punished by "you are malundungu" (not safe, die quickly). This happened because as soon as all customary meetings were completed, two important things were immediately carried out, namely the first, holding IKAR and the second, praying to Marapu to close the meeting. Ikar was appointed by the musyawah leader by saying: :this law and procedure tatada nuku, da hara), exemplary exemplary traditions (by following kalaratu, da huri pangerangu), the boundary as far as we go and the circle as far as we go (na huku lii lakunda, na huku lii lawadinda).Let these decisions we live deep in the heart and we practice it truly in all the fairies of our lives ranging from us to heredity (matawa kalumbutu la iwinya, said kaloru pakawananya = let us keep it in a strong rattan kalumbutu, we hold tight with the right hand). The second thing is to pray (hamayangu) to Marapu to bless those who do it in his life, and to punish those who break them. 7 This is of course different from the traditional deliberations sponsored by the government. In the opinion of the adapters, musyawah like this is actually more appropriate when it is called - a seminar on Sumba adat customs, because it places more emphasis on the implementation of these customs in daily life.Form and Layer of Society in East Sumba Kabihu (clan or tribe, or clan) is a group of people who are a legal alliance according to heredity (genealogical) whose members consist of people who occur descendants of one ancestor. Within a legal area there are always landowners or landowners (mangu tanangu), kabihu who are considered early migrants, who first arrive at the location so that they become owners or also certain ways to obtain land rights. East Sumba people do not allow intermarriage between Kabihu members (exogamic, marriages outside). In addition there are kabihu that can multiply so that they multiply, there are also kabihu that do not breed, so that eventually they become extinct and disappear from the community, leaving only the name of the clan. In a village or country, kabihu are appointed and certain figures are assigned for certain tasks. In the life of the community, the composition of the life of the East Sumba community is as follows: Maramba: noble, king, aristocrat; Maramba is a person of royal descent who is the highest status person in the social status of the Sumba community.These maramba who usually hold the government head in their respective regions. Kabihu: free people, ordinary people; Kabihu are people who are free and not bound by maramba, they are free to do whatever they want without any pressure from the aristocrats and usually the people of this kabihu are chosen to perform the Marapu ritual, as queens. Ata: servants Ata or servants are the lowest class in the structure of the social layer of Sumba society. They were used as tools as workers in the homes of the nobles. Ata or servants owned by the aristocrats were obtained through prisoners of war in the past, and there were also servants who were bought in the past, so that their offspring continue to serve the descendants of nobles who won the war or descendants of nobles who bought servants. Because of that the whole life of the embers servant must serve his master. This level is based on pedigree or birth. However, due to the development of the situation, the people who originally came from ordinary people can improve their status because they are sociable, married - married, have economic ability and success in education. Social status or social caste as detailed above, in daily life is not so visible anymore. Education (expertise) possessed by a person contributes to his life in society.The community gives special appreciation to a cerjana because it is considered "he knows better" so that many people hear and follow what he says. Education gives a plus for one's authority. This authority can be relied upon even if the person concerned can prove himself to the community where he is, that he is indeed an expert in his field, if he looks different. Thus, educated people can improve their social status in society. Settlements and Forms of Houses The people of Sumba built settlements (praingu) which consisted of the houses of several clans (kabihu). This settlement is usually built on a hill with a stone fence and thorny plants (usually plants such as thorny cactus). The fence is intended to protect settlements from enemy attacks. Its location at an altitude illustrates the concept of the Sumba people who believe that the altitude place is the residence of the spirits of the ancestors. Trust in Marapu has influenced the formation of settlements built in praingu. Each praingu is usually equipped with a house of worship, a monument to worship (cathode), and a tomb. In the paraing traditional village there are typical houses called Uma Mbatangu.With alang-alang roofs towering, and its position entirely forming a boat, and in the middle of residential housing there is a megalithic grave. The symbol is closely related to cosmologilocal. The layout of the house like a boat depicts unity and unity, namely a collaboration from the Malacca peninsula to Sumba. In addition to influencing the formation of settlements, the belief in Marapu has also framed the meaning of traditional Sumba houses. The philosophy of the Sumbanese people is that the house is not just a shelter from rain and heat but the house is a microcosm of the macrocosm world. So that in the house of Sumba people are divided into three parts: The top place (attic) called the uma shop is a sacred room for the gods and ancestral spirits because it is a place for storing heirlooms (sacred) and worship objects. The room in the middle is called bei uma or the body of a house, is a place of human activity. The outside of the form of a porch where to relax and receive guests. While the interior is a place of residence as well as a place of worship and ritual implementation. This house has two doors in the front left and right. The right front door is the entrance for men who are in direct contact with Bale Katonga, the part of the house for men with more formal functions (a place to receive guests) and religious (a place to perform rites).The left door for women, which is directly related to the Kere Padulu whose function is more on household matters. In the middle of the room - flanked by four main rooms - there is a cooking stove called rubuka. And the bedroom is adjusted to the position of the 4 main pillars. While the lower part (under the house) is called Sali Kabunga, a place for raising livestock (animal cages such as horses, buffaloes and pigs). The role of Betel - betel Betel - betel is very important role in the life of the Sumbanese, even relatively can shift the role of food. Everyone who comes to visit must first be offered a betel place - areca nut (mahah pahapa). To eat betel, three elements need to be provided namely betel, areca nut and lime flour. Betel can be in the form of betel leaf, fresh betel fruit and dried fruit betel. Areca can form young pinag fruit, old pinag fruit, and dried pinag fruit slices. Place betel that is always ready for guests or for their own purposes in the household is called mbola pahapa (pinag betel place). The betel place which is always carried by women is called Kapu while the betel place which is carried by men is called Kalumbutu.Old people who are toothless are no longer able to chew, provide themselves betel nut betel tool called, Tuku (ripped, derived from the word go back), made from the tip of the buffalo horn (called: bai = female), with a small mashing tool from metal (called: muni tuku = male). Betel nut that has been crushed with "Tear" is often shared - shared with fellow parents. If you meet and are not treated to betel nut, then it is considered rude or perhaps being angry. Likewise, if you meet on the way, you should offer betel nut to one another. Based on the things mentioned above, betel betel plays a role as a daily social tool, in addition to eating betel nut (usually in short betel only = hapa) provides calmness and enthusiasm, because betel and areca nut contains alkaloids, so it actually looks like narcotics. Many Sumbanese people think that it is better not to eat than not eating betel nut. Then betel nut is also considered a sign of maturity. In traditional affairs, both marriage ceremonies and death ceremonies, giving betel betel is very important, so the budget for betel nut is also quite large.

Persyaratan Layanan

Semua terjemahan yang dibuat di dalam terjemahan.id disimpan ke dalam database. Data-data yang telah direkam di dalam database akan diposting di situs web secara terbuka dan anonim. Oleh sebab itu, kami mengingatkan Anda untuk tidak memasukkan informasi dan data pribadi ke dalam system translasi terjemahan.id. anda dapat menemukan Konten yang berupa bahasa gaul, kata-kata tidak senonoh, hal-hal berbau seks, dan hal serupa lainnya di dalam system translasi yang disebabkan oleh riwayat translasi dari pengguna lainnya. Dikarenakan hasil terjemahan yang dibuat oleh system translasi terjemahan.id bisa jadi tidak sesuai pada beberapa orang dari segala usia dan pandangan Kami menyarankan agar Anda tidak menggunakan situs web kami dalam situasi yang tidak nyaman. Jika pada saat anda melakukan penerjemahan Anda menemukan isi terjemahan Anda termasuk kedalam hak cipta, atau bersifat penghinaan, maupun sesuatu yang bersifat serupa, Anda dapat menghubungi kami di →"Kontak"


Kebijakan Privasi

Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)